nosararanews.id, PALU-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius bagi Indonesia. Di tengah fenomena El Niño 2026 yang berpotensi menghadirkan kondisi lebih kering dan panjang, risiko kebakaran semakin meningkat. Namun, El Niño bukanlah alasan untuk membiarkan hutan dan lahan terbakar. Pencegahan tetap menjadi tanggung jawab bersama, mulai dari pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat.
Fenomena El Niño menyebabkan perubahan pola cuaca yang dapat membuat sebagian wilayah Indonesia mengalami kondisi lebih kering dan kekurangan curah hujan. BMKG menyebut El Niño 2026 berpotensi mencapai level sangat kuat dan dapat meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan. (sumber: https://www.bmkg.go.id/berita/utama/bmkg-perkuat-antisipasi-dampak-el-nino-2026-fokus-jaga-ketersediaan-air-dan-cegah-karhutla?utm_source=chatgpt.com)
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani pernah mengatakan El Nino itu terjadi ketika suhu di permukaan laut, tepatnya di tengah Samudra Pasifik, naik lebih tinggi dari 0,5 derajat Celsius. Jika sudah melewati batas itu, kita mengatakan sudah masuk dalam kondisi El Nino aktif. Dan saat ini kondisinya sudah masuk ke El Nino Kuat. Jadi perlu mengantisipasinya. (sumber: https://www.bmkg.go.id/berita/utama/bmkg-perkuat-antisipasi-dampak-el-nino-2026-fokus-jaga-ketersediaan-air-dan-cegah-karhutla?utm_source=chatgpt.com)
Lebih dari itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG sebelumnya memperingatkan bahwa fenomena El Niño diperkirakan bertahan hingga awal 2027 dan dapat meningkatkan risiko kekeringan. Kondisi tersebut berpotensi memperbesar risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan. (sumber : https://www.bmkg.go.id/berita/utama/bmkg-perkuat-antisipasi-dampak-el-nino-2026-fokus-jaga-ketersediaan-air-dan-cegah-karhutla?utm_source=chatgpt.com)
Namun, penting untuk kita pahami bahwa El Niño bukan penyebab langsung munculnya api. El Niño lebih tepat disebut sebagai faktor yang membuat lingkungan menjadi jauh lebih mudah terbakar. Sumber api tetap harus dilihat dari aktivitas manusia maupun faktor lainnya.
Karena itu, pembukaan lahan dengan cara membakar harus dihentikan, terutama ketika kondisi lingkungan sedang sangat kering.
Apasih dampak buruknya Karhutla?
Karhutla bukan hanya persoalan rusaknya pepohonan. Ketika hutan dan lahan terbakar, berbagai persoalan dapat muncul secara bersamaan.
Asap kebakaran dapat mengganggu kualitas udara dan aktivitas masyarakat. Ekosistem serta habitat satwa juga mengalami kerusakan. Kebakaran di kawasan gambut bahkan dapat menghasilkan asap dalam jumlah besar dan sulit dipadamkan karena api dapat menjalar hingga lapisan bawah permukaan tanah.
Dampaknya juga dapat merembet ke sektor ekonomi, pendidikan, transportasi dan kehidupan sosial masyarakat.
Bagaimana respon pemerintah hari ini?
Pemerintah telah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi karhutla di tengah ancaman El Niño. Pada Agustus 2026, pemerintah menyatakan mengerahkan berbagai langkah, mulai dari pemantauan titik api, operasi modifikasi cuaca, hingga pengerahan helikopter dan pesawat untuk membantu pemadaman. (sumber: https://setkab.go.id/pemerintah-kembali-kirim-bantuan-ke-ntt-dan-perkuat-penanganan-karhutla-di-kalimantan/?utm_source=chatgpt.com)
Kementerian Kehutanan juga memperkuat kesiapsiagaan pengendalian karhutla melalui penguatan deteksi dini, kesiapan personel dan sarana-prasarana, serta koordinasi lintas sektor.
Pemerintah tidak akan mampu mengendalikan karhutla sendirian. Masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam mencegah munculnya api.
Karena itu, menjaga hutan bukan hanya tugas petugas pemadam kebakaran. Menjaga lingkungan adalah investasi untuk keselamatan masyarakat hari ini dan generasi yang akan datang.
Karhutla di Tengah Ancaman El Niño: Pemerintah dan Masyarakat harus bersinergi menjaga lingkungan.
Komentar
0 komentar ditampilkan